Kejadian Mengejutkan di Kebun Sayur, Enam Sapi Mati Mendadak
Beberapa waktu lalu, warga Desa Pemuda, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel) dikejutkan oleh kejadian yang mengejutkan. Enam ekor sapi milik seorang peternak ditemukan mati di area kebun sayur. Peristiwa ini menimbulkan banyak tanda tanya dan spekulasi di kalangan masyarakat.
Video berdurasi 45 detik yang beredar di media sosial menunjukkan beberapa ekor sapi tergeletak tak bernyawa di lahan pertanian. Dalam video tersebut, sapi-sapi berkulit cokelat terang, yang dikenal sebagai sapi Bali, tampak memiliki perut yang membesar, seperti kembung. Banyak warga mengira bahwa ternak tersebut mati akibat diracun.
Kapolres Tanah Laut AKBP Ricky Boy Siallagan melalui Kapolsek Pelaihari Iptu Benny Wishnu Wardhani mengonfirmasi adanya kejadian tersebut. Menurutnya, pihak kepolisian menerima laporan dari warga tentang kematian beberapa ternak sapi. Anggota langsung mendatangi lokasi dan menemukan sekitar enam ekor sapi milik Pak Sapriani dalam kondisi sudah mati.
Kejadian tersebut terjadi pada Senin siang sekitar pukul 11.30 Wita di wilayah Desa Pemuda. Saat ini, penyelidikan sedang dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kematian sapi tersebut.
Dugaan Sementara: Keracunan atau Zat Kimia?
Benny menjelaskan bahwa dugaan sementara menyebutkan bahwa kematian sapi disebabkan oleh keracunan. Namun, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk memastikan jenis racun atau zat kimia yang mungkin menjadi penyebab kematian ternak.
“Karena lokasi itu merupakan lahan perkebunan, bisa saja ada penyemprotan rumput atau pembasmian akar pohon. Jika sapi mengonsumsi tanaman yang terpapar zat kimia, itu yang masih kita dalami. Semua kemungkinan masih kita periksa,” jelasnya.
Penyelidikan juga dilakukan untuk memastikan apakah ada unsur kelalaian atau faktor lain yang dapat menimbulkan kerugian bagi peternak. Proses ini penting untuk memberikan kepastian hukum sekaligus kejelasan bagi masyarakat.
Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah
Akibat kejadian tersebut, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp120 juta. Nilai ini mencerminkan besarnya dampak ekonomi yang harus ditanggung pemilik ternak, mengingat sapi Bali dikenal sebagai salah satu komoditas ternak bernilai tinggi.
Pemilik sapi, Pak Sapriani, telah melaporkan kejadian tersebut secara resmi kepada pihak kepolisian. Laporan ini menjadi dasar penyelidikan lebih lanjut guna memberikan kepastian hukum sekaligus kejelasan bagi masyarakat.
Peristiwa ini menambah kekhawatiran warga setempat, khususnya para peternak, terhadap potensi risiko di sekitar lahan pertanian. Polisi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan proses penyelidikan kepada aparat berwenang.
Imbauan dan Tindakan Lanjutan
Polisi menegaskan bahwa kasus ini masih dalam tahap pendalaman, dan perkembangan lebih lanjut akan disampaikan setelah hasil pemeriksaan resmi diperoleh. Masyarakat diminta untuk tidak melakukan tindakan sendiri dan menunggu informasi resmi dari pihak berwajib.





