Visi Dr Dodo Murtado: Teknologi sebagai Alat Dakwah untuk Kesejahteraan Rakyat!

Whatsapp Image 2020 07 07 At 11.13.05 1
Whatsapp Image 2020 07 07 At 11.13.05 1

Peran Teknologi dalam Meningkatkan Kemaslahatan Ibadah

Di era disrupsi saat ini, teknologi bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen sakral untuk memperluas maslahat ibadah. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Dodo Murtado, M.Pd, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Inovasi dan Pengembangan Strategis Institut Nahdlatul Ulama (INU) Kota Tasikmalaya.

Dalam program “Kurma” yang disiarkan melalui akun Instagram resmi @kemenag_kotatasikmalaya, pria kelahiran Tasikmalaya, 7 Juni 1972 ini memaparkan bahwa integrasi teknologi informasi menjadi kunci utama bagi BAZNAS RI dalam mengejar target optimalisasi potensi zakat nasional yang mencapai angka fantastis sebesar 327 triliun pada tahun 2025.

Sebagai sosok yang memegang teguh filosofi hidup “Bersilaturahmi”, Beliau menekankan bahwa penguasaan teknologi adalah bagian dari upaya mewujudkan hidup yang berkah melalui kemaslahatan umat.

Menurut Dr. Dodo Murtado, pemanfaatan teknologi dalam Islam harus berpijak pada tiga prinsip fundamental. Prinsip pertama adalah teknologi wajib menjadi alat kemaslahatan yang digunakan untuk kebaikan, memberikan kemudahan dalam beribadah, serta membawa manfaat nyata bagi kehidupan manusia secara luas.

Yang kedua, pengembangan inovasi digital harus memiliki kesesuaian syariat yang tidak menabrak koridor Al-Qur’an dan Hadis, serta tetap menjaga batasan halal dan haram. Sementara yang ketiga adalah setiap perkembangan teknologi harus memiliki orientasi dakwah yang diarahkan sepenuhnya untuk kepentingan ibadah dan syiar Islam.

Salah satu lompatan besar yang dibahas dalam program ‘Kurma’ tersebut adalah penggunaan platform digital dan teknologi ‘blockchain’ yang mampu memberikan transparansi secara real-time. Kehadiran teknologi ini berhasil memangkas sekat ruang dan waktu bagi para muzakki, sehingga mereka dapat menunaikan zakat di mana saja dan kapan saja dengan aksesibilitas yang jauh lebih mudah.

Lebih jauh kata Beliau, aspek akuntabilitas kini menjadi lebih terjamin karena para muzakki dapat memantau langsung arus aliran dana, mulai dari proses pemasukan hingga pendistribusiannya kepada yang berhak.

Tak hanya soal pengumpulan, teknologi juga merevolusi pola pendistribusian menjadi jauh lebih produktif. Dana zakat kini tidak hanya diberikan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi diarahkan untuk pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan, seperti pengembangan usaha mikro, pendidikan digital, hingga pelatihan sumber daya manusia.

Selain itu, pemanfaatan teknologi ini juga menyentuh pengembangan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dr. Dodo menekankan bahwa Islam sangat mendorong umatnya untuk menguasai teknologi demi tujuan mulia, yaitu memakmurkan bumi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Upaya digitalisasi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada instrumen zakat semata, namun juga merambah pada optimalisasi pengelolaan infak, sedekah, dan wakaf.

Dengan transparansi yang terjaga dan akses yang semakin mudah, teknologi sejatinya sedang menuntun umat untuk kembali ke fitrah kemanusiaan: saling berbagi dengan cara yang lebih presisi, modern, dan tetap bermartabat.

Teknologi sebagai Nadi Baru dalam Ekosistem Filantropi Islam

Transformasi digital yang diusung oleh Kepala Pusat Inovasi INU Kota Tasikmalaya ini menjadi sinyal kuat bahwa dakwah masa kini tidak lagi terbatas di atas mimbar. Dengan mengintegrasikan nilai syariat dan inovasi mutakhir, teknologi kini resmi menjadi ‘nadi baru’ dalam menghidupkan ekosistem filantropi Islam yang lebih akuntabel, produktif, dan menjangkau hingga pelosok negeri.


Pos terkait