Prospek Harga Bitcoin di Tengah Ketidakpastian Kebijakan Moneter AS
Harga Bitcoin dalam jangka pendek masih menghadapi ketidakpastian akibat arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Pada Jumat (20/2) siang, harga koin digital ini terpantau bergerak di sekitar US$ 67.849, setelah sempat turun di bawah US$66.500. Pelemahan tersebut terjadi setelah rilis risalah rapat The Fed yang dinilai lebih agresif dari ekspektasi pasar.
Menurut analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur, respons pasar kripto kali ini mencerminkan penyesuaian cepat terhadap sinyal kebijakan moneter AS. Ia menjelaskan bahwa nada risalah rapat yang hawkish membuat pelaku pasar kembali mengevaluasi kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ketika ekspektasi pemangkasan mundur, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung tertekan.
Risalah rapat Januari yang dirilis pada Rabu (18/2) menunjukkan bahwa beberapa pejabat The Fed melihat belum ada urgensi untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga. Beberapa anggota bahkan membuka ruang untuk kenaikan suku bunga jika inflasi tetap berada di atas target 2%.
Fyqieh juga menyebut bahwa faktor geopolitik turut memperbesar tekanan pada aset berisiko. “Ketika risiko geopolitik meningkat dan harga minyak melonjak, pasar cenderung masuk mode risk-off. Hal ini biasanya meningkatkan volatilitas kripto karena investor mengurangi eksposur,” ujarnya.
Di sisi lain, kembalinya likuiditas pasar Asia setelah libur Tahun Baru Imlek juga memengaruhi pergerakan harga. Peningkatan volume perdagangan diperkirakan memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek.
Selain itu, transisi kepemimpinan The Fed juga menjadi perhatian. Masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026, sementara Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai penggantinya. Meskipun Warsh dipandang lebih condong pada suku bunga rendah, risalah rapat menunjukkan bahwa mayoritas anggota FOMC masih memprioritaskan pengendalian inflasi.
Pasar berjangka saat ini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga paling cepat terjadi pada Juni 2026. Dalam situasi ini, Fyqieh menilai volatilitas yang terjadi mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik.
Secara teknikal, Bitcoin saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dan berada di area krusial. Menurutnya, koin ini sedang bergerak di sekitar zona support jangka pendek antara US$ 66.200 hingga US$ 67.800. Selama area ini bertahan, peluang pemulihan tetap terbuka, meskipun pergerakan cenderung terbatas karena pasar masih menunggu katalis baru.
Level resistensi terdekat berada di sekitar US$ 68.380. “Jika mampu menembus level tersebut, harga berpotensi menguji area berikutnya di US$ 69.250 hingga US$ 70.800. Namun jika tekanan jual kembali meningkat dan support gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan tetap ada,” kata Fyqieh.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Harga Bitcoin
- Kebijakan Moneter AS: Risalah rapat The Fed yang lebih hawkish memicu ketidakpastian dalam pasar.
- Faktor Geopolitik: Ketegangan di tingkat global dan lonjakan harga minyak memengaruhi sentimen pasar.
- Likuiditas Pasar Asia: Kembalinya aktivitas pasca-libur Tahun Baru Imlek memengaruhi pergerakan harga.
- Transisi Kepemimpinan The Fed: Perubahan kepemimpinan memicu spekulasi terkait arah kebijakan suku bunga.
- Analisis Teknis: Zona support dan resistensi menjadi indikator penting dalam menentukan pergerakan harga.
Dengan kondisi ini, investor perlu terus memantau perkembangan terbaru baik dari sisi makroekonomi maupun geopolitik. Pergerakan harga Bitcoin masih sangat sensitif terhadap berbagai faktor eksternal, sehingga memerlukan strategi investasi yang tepat dan disiplin.





