Wakil Bupati Moh. Edwin Hadiwijaya Kembangkan Kolaborasi Pesantren untuk Turunkan Stunting

Thumbnail 1724416221 378b197b 7021 4daa 9c87 175cb5d6d99d
Thumbnail 1724416221 378b197b 7021 4daa 9c87 175cb5d6d99d

Upaya Pencegahan Nikah Dini untuk Menurunkan Stunting di Lombok Timur

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kini fokus pada upaya pencegahan nikah dini sebagai langkah strategis dalam menurunkan angka stunting. Hal ini dilakukan karena perkawinan anak sering kali menjadi akar masalah yang sering kali terlewat dari perhatian masyarakat. Dengan menunda usia perkawinan, diharapkan dapat memutus mata rantai stunting sejak dini.

Wakil Bupati Lombok Timur, Moh. Edwin Hadiwijaya, menyampaikan hal tersebut saat berkunjung ke Yayasan Pondok Pesantren Al Badriyah Rarang, Sabtu 28 Februari 2026. Ia menjelaskan bahwa perkawinan pada usia yang belum matang secara fisik dan psikologis memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan ibu dan anak. Kehamilan usia dini rentan memicu berbagai komplikasi, termasuk kekurangan gizi pada ibu hamil dan kelahiran anak dengan kondisi stunting.

“Pondok pesantren memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir dan karakter generasi muda. Melalui edukasi dan pembinaan berkelanjutan, kami berharap pesantren dapat menjadi mitra pemerintah dalam memberikan pemahaman kepada santri dan masyarakat tentang pentingnya menunda usia perkawinan,” ujarnya.

Dari Mimbar Pesantren ke Perubahan Sosial

Pendekatan pencegahan stunting tidak hanya mengandalkan sektor kesehatan. Wakil Bupati menegaskan bahwa penanganan stunting adalah kerja kolaboratif lintas sektor. Tokoh agama dan lembaga pendidikan keagamaan dinilai memiliki pengaruh kuat dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat.

Nilai-nilai keagamaan yang disampaikan di lingkungan pesantren diharapkan mampu memperkuat pemahaman tentang kesiapan fisik, mental, dan ekonomi sebelum memasuki pernikahan. Dengan demikian, pencegahan stunting dimulai dari perubahan pola pikir generasi muda.

Langkah ini juga menjadi tanda bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan intervensi gizi, tetapi harus menyentuh dimensi sosial dan budaya.

Target Jangka Panjang: Generasi Sehat dan Berkualitas

Dengan sinergi antara pemerintah daerah dan pesantren, angka perkawinan anak diharapkan dapat ditekan secara signifikan. Jika berhasil, strategi ini tidak hanya berdampak pada penurunan stunting, tetapi juga meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan keluarga di masa depan.

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur berkomitmen untuk menggencarkan sosialisasi, edukasi, serta pendampingan kepada masyarakat. Tujuannya jelas: mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas sebagai fondasi Lombok Timur yang sejahtera, maju, adil, religius, dan transparan.

Model Pencegahan Stunting Berbasis Nilai dan Komunitas

Dengan menggandeng pesantren sebagai mitra strategis, Lombok Timur sedang membangun model pencegahan stunting berbasis nilai dan komunitas—sebuah pendekatan yang menempatkan perubahan sosial sebagai kunci utama keberhasilan.

  • Pendekatan ini melibatkan:
  • Edukasi dan pembinaan berkelanjutan di lingkungan pesantren
  • Kolaborasi lintas sektor, termasuk kesehatan dan pendidikan
  • Penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menunda usia perkawinan
  • Penguatan kesadaran akan kesiapan fisik, mental, dan ekonomi sebelum menikah

Dengan langkah-langkah ini, Lombok Timur berupaya menciptakan perubahan yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi generasi muda dan masyarakat secara keseluruhan.

Pos terkait