Kehidupan dan Karier Tri Sutrisno
Tri Sutrisno, yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, meninggal dunia pada hari Senin (2/3) di usia 90 tahun. Ia menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto pada pukul 06.58 WIB. Jenazahnya akan disemayamkan di rumah duka RSPAD sebelum kemudian dibawa ke rumah duka yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Dalam pernyataannya, keluarga menyampaikan permintaan maaf atas segala kesalahan dan khilaf almarhum selama hidupnya. Mereka juga berharap amal ibadah Tri Sutrisno diterima oleh Allah SWT.
Perjalanan Karier Militer
Tri Sutrisno lahir pada tanggal 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur. Ia adalah salah satu tokoh dari kalangan militer yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia. Awal karier militer Tri Sutrisno dimulai ketika ia diterima menjadi taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada tahun 1956. Dari sana, ia mulai menapaki jalan menuju posisi penting dalam struktur militer Indonesia.
Pada masa Operasi Pembebasan Irian Barat pada tahun 1962, Tri Sutrisno bertemu dengan Presiden Soeharto. Hubungan ini kemudian berkembang hingga ia diangkat menjadi ajudan Presiden Soeharto pada tahun 1974. Ini menjadi awal dari peran pentingnya dalam lingkaran kekuasaan presiden.
Jabatan Strategis dalam TNI
Pada Agustus 1985, Tri Sutrisno menjabat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Jenderal. Setahun kemudian, ia naik jabatan menjadi Kepala Staf Angkatan Darat. Dengan posisi tersebut, ia memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan operasional TNI Angkatan Darat.
Menjadi Wakil Presiden
Peran politik Tri Sutrisno semakin signifikan ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1992-1997 memilihnya sebagai Wakil Presiden RI. Ia mendampingi Presiden Soeharto dalam masa jabatannya pada tahun 1993. Sebagai wakil presiden, ia menjadi bagian dari pemerintahan yang berlangsung selama beberapa tahun.
Namun, tugasnya sebagai Wakil Presiden berakhir pada tahun 1998. Pada Sidang Umum MPR, ia digantikan oleh BJ. Habibie. Perpindahan ini terjadi di tengah perubahan politik yang sedang berlangsung di Indonesia saat itu.
Warisan dan Kenangan
Sebagai tokoh yang berasal dari latar belakang militer, Tri Sutrisno dikenal sebagai sosok yang memiliki dedikasi tinggi terhadap bangsa dan negara. Kiprahnya dalam berbagai jabatan militer dan politik telah memberikan kontribusi besar bagi sejarah Indonesia.
Kematian Tri Sutrisno menjadi momen duka bagi banyak pihak, termasuk keluarga, rekan kerja, serta masyarakat luas. Meskipun ia telah tiada, warisan dan pengabdian yang diberikan selama hidupnya tetap akan diingat dan dihargai.





