Waktu Puncak Gerhana Bulan Total 2026 di WIB, WITA, dan WIT

1931248658 2
1931248658 2

Fenomena Langit Spektakuler: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026

Pada Selasa, 3 Maret 2026, masyarakat Indonesia akan disuguhkan fenomena langit yang sangat spektakuler. Gerhana Bulan Total akan menghiasi cakrawala malam, memberikan pengalaman astronomis yang luar biasa bagi para penggemar ilmu pengetahuan dan pengamat langit.

Berdasarkan data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak gerhana akan terjadi pada pukul 18.33 WIB, 19.33 WITA, dan 20.33 WIT. Fase totalitas gerhana akan berlangsung selama hampir satu jam, membuat momen ini menjadi salah satu yang paling menarik dalam tahun 2026.

Jika cuaca cerah, Bulan akan tampak berwarna merah dramatis. Fenomena ini menjadi satu-satunya Gerhana Bulan Total yang bisa diamati langsung dari Indonesia sepanjang 2026. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa Gerhana Bulan terjadi akibat dinamika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan. Secara spesifik, Gerhana Bulan Total terjadi ketika ketiga benda langit tersebut berada dalam satu garis sejajar, sehingga Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.

Fenomena ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki makna ilmiah yang mendalam. Saat Bulan berada di dalam umbra Bumi, cahaya matahari yang melewati atmosfer Bumi akan mengalami hamburan Rayleigh. Dalam proses ini, cahaya dengan panjang gelombang pendek (biru) tersebar, sedangkan cahaya dengan panjang gelombang panjang (merah) lolos dan mencapai permukaan Bulan, sehingga menghasilkan warna merah yang khas.

Secara keseluruhan, durasi gerhana dari fase awal hingga akhir akan memakan waktu 5 jam 41 menit 51 detik. Durasi parsialitasnya berlangsung selama 3 jam 27 menit 47 detik, sementara fase totalitas akan berlangsung selama 59 menit 27 detik. Jika kondisi langit cerah, masyarakat dapat melihat perubahan warna Bulan menjadi merah saat puncak gerhana terjadi.

Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu, Fachri Radjab, menyampaikan bahwa wilayah Timur Indonesia memiliki visibilitas yang lebih baik untuk mengamati fase-fase awal gerhana saat Bulan terbit. Sementara itu, wilayah Barat Indonesia akan melihat gerhana dalam kondisi sudah berlangsung (fase totalitas atau puncak) sesaat setelah Bulan terbit.

Fenomena ini akan benar-benar berakhir pada pukul 21.24 WIB (atau tengah malam di wilayah WIT) saat Bulan keluar dari bayangan penumbra Bumi. Masyarakat diimbau untuk mencari lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memiliki pandangan langit yang cerah ke arah terbitnya Bulan.

Tahun 2026 diprediksi akan mengalami empat kali gerhana, yaitu dua kali gerhana Matahari dan dua kali gerhana Bulan. Namun, hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari Indonesia. Secara astronomis, gerhana ini merupakan anggota ke-27 dari 71 anggota pada seri Saros 133. Fenomena ini sebelumnya pernah terjadi pada 21 Februari 2008 dan diprediksi akan kembali berasosiasi pada 13 Maret 2044 mendatang.

BMKG berkomitmen untuk terus memberikan informasi tanda waktu dan fenomena astronomi secara akurat kepada publik. Masyarakat diimbau untuk menikmati fenomena ini dengan tetap memperhatikan informasi cuaca setempat dari kanal resmi BMKG.


Pos terkait