Wall Street bangkit di tengah ketegangan Iran-Israel dan kenaikan harga minyak

Aa1i4skg 1
Aa1i4skg 1



Pada penutupan perdagangan saham Senin (2/3), indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan meskipun awalnya tertekan akibat serangan yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan.

Indeks S&P 500 ditutup naik tipis sebesar 0,04% menjadi 6.881,62 setelah sempat turun hingga 1,2% pada titik terendah intraday. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat sebesar 0,36% dan berakhir di level 22.748,86. Indeks ini sebelumnya sempat terkoreksi hingga 1,6% sebelum akhirnya pulih.

Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru melemah sebesar 73,14 poin atau 0,15% menjadi 48.904,78. Meski demikian, indeks ini sempat merosot hampir 600 poin pada awal perdagangan.

Pulihnya pasar saham dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Pertama, harga minyak Amerika Serikat turun dari level tertinggi intraday, sehingga mengurangi kekhawatiran investor terhadap dampak konflik geopolitik terhadap ekonomi AS. Kedua, investor memanfaatkan penurunan harga saham untuk membeli kembali saham-saham teknologi unggulan. Perusahaan seperti Nvidia dan Microsoft dinilai lebih tahan terhadap gejolak karena memiliki neraca kas yang kuat.

Selain itu, pelaku pasar juga mempertimbangkan pola historis bahwa pasar saham global biasanya mampu pulih dari dampak konflik geopolitik dalam jangka waktu tertentu. CEO KKM Financial, Jeff Kilburg, menyatakan bahwa pasar futures bereaksi berlebihan terhadap konflik Iran, menciptakan peluang bagi investor untuk membeli S&P 500 ketika indeks tersebut mendekati level terendah 2026. Ia juga memprediksi pasar akan kembali menguat sebelum penutupan perdagangan Senin.

“Kami tetap berada dalam pasar bullish meskipun ketegangan geopolitik meningkat,” ucap Kilburg.

Saham teknologi menguat di tengah ketegangan geopolitik. Saham Nvidia naik hampir 3%, sedangkan Microsoft menguat lebih dari 1%. Dari 11 sektor di S&P 500, hanya empat yang ditutup positif, yaitu energi, industri, teknologi, dan properti.

Selain sektor teknologi, saham sektor pertahanan juga membantu pemulihan pasar. Saham Northrop Grumman naik sekitar 6%, sedangkan Lockheed Martin menguat lebih dari 3%. Saham energi juga ikut naik, termasuk Exxon Mobil dan Chevron.

Data dari Wells Fargo menunjukkan bahwa S&P 500 biasanya kembali positif dalam dua minggu setelah konflik besar dan rata-rata naik sekitar 1% dalam tiga bulan berikutnya.

Meskipun begitu, serangan gabungan AS dan Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, menjadi salah satu peristiwa paling signifikan bagi Iran sejak Revolusi Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer tersebut sebagai “kesempatan terakhir dan terbaik” untuk menghilangkan ancaman dari Iran. Ia memperkirakan konflik akan berlangsung selama empat hingga lima minggu, meski bisa lebih lama.

Iran berjanji membalas serangan tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah setelah ledakan dilaporkan terdengar di Dubai dan Abu Dhabi.

Di pasar komoditas, harga minyak melonjak karena kekhawatiran gangguan pasokan. Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC. Harga minyak sempat naik hingga 12% sebelum terkoreksi. Namun kontrak Brent Crude Oil masih naik hampir 8% setelah komandan Islamic Revolutionary Guard Corps menyatakan Strait of Hormuz ditutup.

Strategis investasi Robert W. Baird & Co, Ross Mayfield, menyatakan bahwa penutupan berkepanjangan di Strait of Hormuz berpotensi mendorong harga minyak. Namun menurutnya, lonjakan harga minyak yang hanya berlangsung sekitar dua minggu kemungkinan tidak akan memberikan dampak besar terhadap konsumen di AS.

“Atau cara The Fed memandang suku bunga, tetapi kenaikan level selama beberapa bulan akan berdampak,” ucapnya.

Pos terkait