Wall Street Terguncang, Investor Waspada Perang Timur Tengah

Aa1xipz3 7
Aa1xipz3 7



Indeks saham utama Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada Jumat (27/2), akibat tekanan di sektor keuangan dan teknologi yang muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran investor. Pelemahan ini menjadi yang terbesar dalam satu tahun untuk bulan tersebut.

Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 521,28 poin atau 1,05 persen menjadi 48.977,92. Sementara itu, Indeks S&P 500 (.SPX) melemah 29,98 poin atau 0,43 persen menjadi 6.878,88, dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 210,17 poin atau 0,92 persen menjadi 22.668,21.

Secara mingguan, ketiga indeks mencatat penurunan tajam, dengan Dow Jones mengalami pelemahan terbesar sejak pertengahan November. Aksi jual dipicu oleh ketidakpastian terkait biaya dan gangguan Artificial Intelligence (AI), isu tarif, serta ketegangan geopolitik.

Secara bulanan, S&P 500 dan Nasdaq mencatat penurunan terdalam sejak Maret 2025, sementara Dow Jones tetap mencatat kenaikan bulanan untuk 10 bulan beruntun—yang merupakan rekor terpanjang sejak periode yang berakhir Januari 2018.

Ryan Detrick, Kepala Ahli Strategi Pasar di Carson Group di Omaha, Nebraska, menyampaikan bahwa “Sebagai penutup bulan Februari, kita diingatkan bahwa masih ada beberapa celah di luar sana. Yang menambah pelemahan hari ini adalah data inflasi yang lebih panas, yang berpotensi menekan gagasan The Fed yang cenderung lunak di akhir tahun ini.”

Ia juga menambahkan bahwa “Meskipun bulan Februari memang berat, perusahaan-perusahaan Amerika memperkirakan kenaikan laba lebih dari 14 persen di Kuartal IV. Kenyataannya adalah laba mendorong kenaikan saham jangka panjang dan ini merupakan musim laba yang sangat mengesankan.”

Saham keuangan (.SPSY) merosot setelah laporan bahwa Barclays, Jefferies (JEF.N), Wells Fargo (WFC.N), dan bank lain berpotensi mencatat kerugian akibat runtuhnya Market Financial Solutions Ltd. Saham Wells Fargo, Jefferies, dan Barclays yang tercatat di AS turun 4,0-9,3 persen.

Saham teknologi (.SPLRCT) juga tertekan, dengan saham chip (SOX) dan perangkat lunak masing-masing turun 1,2 persen dan 1,5 persen. Sebaliknya, sektor defensif seperti barang konsumsi pokok (.SPLRCS), layanan kesehatan (.SPXHC), dan utilitas (.SPLRCU) menjadi penopang.

Detrick menjelaskan bahwa “Ini adalah lingkungan penghindaran risiko klasik di mana area defensif mumi menemukan kekuatan sementara pasar mengabaikan beberapa area pertumbuhan siklikal yang jelas tertinggal.”

Data Indeks Harga Produsen yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Berdasarkan FedWatch Tools CME, probabilitas suku bunga tetap di kisaran 3,50–3,75 persen pada Maret mencapai 94,1 persen.

Dari 11 sektor S&P 500, perawatan kesehatan (.SPXHC) dan energi (.SPNY) memimpin kenaikan, sementara keuangan dan teknologi mencatat penurunan terdalam. Pergerakan saham individual cukup tajam: Nvidia (NVDA.O) turun 4,2 persen; Zscaler (ZS.O) anjlok 12,2 persen; Netflix (NFLX.O) melonjak 13,8 persen; Warner Bros Discovery (WBD.O) turun 2,2 persen; Paramount Skydance (PSKY.O) naik 20,8 persen; Block (XYZ.N) menguat 16,8 persen; dan Dell (DELL.N) melesat 21,9 persen.

Di NYSE, saham turun mengungguli naik dengan rasio 1,31:1, sementara di Nasdaq 1,98:1. S&P 500 mencatat 49 rekor tertinggi baru dan 2 terendah baru, sedangkan Nasdaq mencatat 78 tertinggi baru dan 127 terendah baru. Volume perdagangan mencapai 20,85 miliar saham, di atas rata-rata 20 hari terakhir sebesar 20,19 miliar.



Konflik Timur Tengah Pengaruhi Pasar

Konflik Timur Tengah kian menjadi perhatian investor, terutama setelah serangan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan memicu balasan Iran. Ketegangan ini berdampak pada penerbangan, pelayaran tanker minyak di Selat Hormuz, serta meningkatkan ketidakpastian pasar.

Risiko utama adalah ketidakjelasan arah politik Iran dan potensi lonjakan harga minyak yang berimbas pada inflasi global. Harga minyak Brent telah naik sekitar 20 persen tahun ini ke sekitar USD 73 per barel, sementara investor memburu obligasi AS dan emas sebagai aset lindung nilai. Harga emas naik 22 persen sepanjang 2026, sedangkan indeks S&P 500 (SPX) hanya naik 0,5 persen.

“Risiko ekstrem di Timur Tengah telah meningkat. Pasar akan melakukan penyesuaian harga dari guncangan geopolitik ke guncangan risiko rezim, konflik berkepanjangan, bukan hanya pembalasan, kecuali Iran menyatakan ingin bernegosiasi,” kata Rong Ren Goh, Manajer Portofolio di Eastspring Investments di Singapura.

Analis Barclays mengingatkan investor tak meremehkan risiko eskalasi. “Kami menyarankan untuk tidak membeli saat harga turun drastis-rasio risiko-imbalannya tampaknya tidak menarik. Jika harga saham turun cukup signifikan, misalnya lebih dari 10 persen di S&P 500, kemungkinan akan ada waktu yang tepat untuk membeli. Tapi belum sekarang,” tulis mereka.

Sejumlah analis memperkirakan pasar masih akan bergejolak. William Jackson, Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics, memperkirakan jika konflik berkepanjangan maka harga minyak melonjak hingga sekitar USD 100, berpotensi menambah 0,6-0,7 poin persentase pada inflasi global.

Di sisi lain, ada juga analis yang memperkirakan Iran tidak akan mampu mengganggu perdagangan di kawasan Teluk dan dampaknya terhadap harga minyak akan terkendali.

“Kami tidak akan terkejut jika aksi jual di S&P 500 pada Senin pagi berubah menjadi reli, didorong oleh ekspektasi penurunan harga minyak setelah perang Timur Tengah terbaru berakhir,” kata Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research.

“Harga emas mungkin juga akan mengalami pergerakan naik turun pada hari Senin. Imbal hasil obligasi mungkin akan turun karena permintaan aset aman dan prospek penurunan harga minyak pasta-perang,” katanya.

Pos terkait