Tradisi ‘War Takjil’ di Halaman Masjid Agung Baiturrahman
Selama bulan suci Ramadan, halaman luar Masjid Agung Baiturrahman (Gebu) Kabupaten Tasikmalaya menjadi pusat aktivitas masyarakat yang mencari takjil. Pemandangan ini menjadi tradisi tahunan yang selalu dinantikan oleh warga setempat dan pengunjung.
Pada hari pertama Ramadan 1447 H, area depan masjid dipadati pedagang kaki lima musiman yang menjajakan berbagai jenis jajanan. Mulai dari pukul 15.00 WIB, para pedagang sudah siap dengan meja maupun tenda untuk menjual aneka takjil. Jajanan yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari cilor, es kocok, bakso Jontor, sosis gulung, ice kileud, hingga usus kering. Harga jajanan bervariasi, mulai dari Rp2 ribu hingga Rp15 ribu, sehingga cocok untuk berbagai kalangan.
Beberapa pedagang mengaku bahwa omzet mereka meningkat drastis selama Ramadan. Salah satu pedagang, Ijab Nurul (35), mengatakan bahwa peningkatan pemasukan bisa mencapai 50 persen dibanding hari biasa. Ijab yang merupakan warga Singaparna ini biasanya hanya mangkal saat hari libur atau CFD di kawasan komplek Pemkab Tasikmalaya. Namun selama Ramadan, ia membawa lebih banyak variasi menu dan jumlah barang yang lebih banyak.
- Sebelum Ramadan, Ijab hanya membawa sekitar 10 sampai 12 bok makanan. Tapi selama bulan puasa, ia mempersiapkan hingga 15 bok lebih dengan berbagai varian menu.
- Ijab juga mengakui bahwa permintaan pembeli cukup tinggi, terutama untuk jajanan seperti street food yang harga mulai dari Rp2 ribu hingga Rp4 ribu.
Selain para pedagang, banyak warga juga datang ke lokasi ini untuk berburu kuliner. Salah satunya adalah Ainun (43), warga Desa Cikunir yang bersama anaknya sengaja membeli jajanan di Gebu karena harganya terjangkau dan pilihan yang banyak. Menurut Ainun, akses ke lokasi ini sangat mudah dan dekat dengan rumah.
Kondisi Lalu Lintas Selama Ramadan
Karena jumlah pengunjung yang cukup besar, pihak terkait juga melakukan langkah-langkah untuk menghindari kemacetan. Parkir kendaraan roda dua maupun roda empat dialihkan ke dalam halaman masjid agar tidak menyebabkan kemacetan di sekitar area. Pemandangan ini hanya terlihat selama bulan Ramadan saja, karena para pedagang biasanya hanya berjualan di area samping arah gerbang Pemkab Tasikmalaya setiap hari libur.
Para pembeli mulai berdatangan sejak pukul 15.30 WIB. Aktivitas jual beli berlangsung hingga waktu magrib, yaitu sekitar pukul 18.30 WIB. Setelah itu, pedagang mulai menutup lapaknya.
Pengalaman Warga Saat Berburu Takjil
Banyak warga mengakui bahwa tradisi ‘war takjil’ ini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari selama Ramadan. Tidak hanya sebagai tempat mencari makanan, tetapi juga sebagai ajang berkumpul dan bersilaturahmi antar warga. Di sini, orang-orang dari berbagai latar belakang dapat ditemui, baik yang datang sendiri maupun bersama keluarga.
Takjil yang tersedia juga sangat beragam, sesuai dengan selera masyarakat. Beberapa jajanan populer seperti cilor dan es kocok sering menjadi pilihan utama. Selain itu, beberapa pedagang juga menyediakan minuman segar seperti es teh atau air kelapa yang membuat suasana semakin sejuk.





