Warga Gambarkan Ketakutan di Tengah Kota Lebanon, Massa Mengungsi

113359317 062379460.jpg 1
113359317 062379460.jpg 1

Kekacauan di Lebanon Akibat Serangan Israel

Kondisi kian memburuk di Lebanon setelah militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi di lebih dari 50 kota dan desa. Peringatan ini memicu gelombang pengungsian besar-besaran, terutama dari kawasan Beirut dan wilayah selatan negara tersebut. Pihak berwenang menyatakan bahwa warga harus segera meninggalkan area mereka dan menjauh minimal 1.000 meter dari tempat tinggal mereka.

Serangan Israel yang dilakukan terhadap basis Hizbullah menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka, sementara jalanan kota macet total akibat jumlah pengungsi yang sangat besar. Banyak warga bahkan memilih untuk berjalan kaki karena tidak memiliki kendaraan yang cukup.

Penampungan Darurat di Sekolah

Puluhan sekolah di Lebanon dibuka sebagai tempat penampungan darurat bagi warga yang terdampak serangan. Beberapa keluarga bahkan terpaksa bertahan di jalan-jalan pusat kota dan kawasan tepi laut Beirut karena tidak memiliki tempat tujuan. Situasi ini menunjukkan betapa parahnya dampak serangan yang terjadi.

Seorang ayah dari tiga anak menggambarkan keadaan saat serangan dimulai. Ia mengatakan bahwa keluarganya sedang duduk di rumah ketika tiba-tiba serangan terjadi. Mereka langsung berkemas dan membawa anak-anak ke dalam mobil. Namun, mereka kini terjebak di jalan karena pengungsian besar-besaran dari wilayah selatan.

Ia juga menyampaikan rasa lelah karena harus meninggalkan rumah dan tanah mereka berulang kali. Hal ini mencerminkan kekhawatiran yang semakin besar terhadap stabilitas di Lebanon.

Kronologi Eskalasi Konflik

Eskalasi konflik bermula ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket dan drone ke Israel utara sebagai “balas dendam” atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi gabungan AS–Israel di Teheran. Sebagai respons, Israel melakukan serangan udara besar-besaran terhadap beberapa titik strategis di Lebanon.

Target serangan meliputi Dahiyeh di pinggiran selatan Beirut, sejumlah kota di Lebanon selatan, hingga Lembah Beqaa di bagian timur negara itu. Pemerintah Israel menyatakan bahwa serangan tersebut menyasar fasilitas dan personil Hizbullah yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata tahun 2024.

Namun, dampak serangan ini cukup besar. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka. Dari jumlah tersebut, 20 korban tewas dan 91 orang luka berada di Beirut, sementara 11 korban tewas dan 58 luka-luka tercatat di wilayah selatan Lebanon.

Risiko Perang Terbuka Semakin Besar

Situasi ini mengingatkan kembali pada perang besar tahun 2024 yang menyebabkan kehancuran luas di Lebanon dan menewaskan banyak warga sipil. Konflik tersebut juga melemahkan struktur komando Hizbullah, termasuk tewasnya pemimpin lamanya, Hassan Nasrallah.

Sejak gencatan senjata diberlakukan, Israel masih melakukan serangan berkala di wilayah selatan Lebanon, namun serangan roket terbaru yang diklaim Hizbullah kini menjadi titik balik baru dalam dinamika konflik. Eskalasi terbaru ini terjadi saat pemerintah Lebanon berupaya mencegah Hizbullah terlibat dalam perang regional yang lebih luas, khususnya yang berkaitan dengan Iran.

Dengan meningkatnya intensitas serangan udara, munculnya gelombang pengungsian warga sipil, serta ancaman langsung terhadap pimpinan Hizbullah, risiko perang terbuka di kawasan semakin besar. Lebanon kini kembali berada di persimpangan krisis antara menjaga stabilitas dalam negeri atau terseret lebih jauh ke dalam pusaran konflik Timur Tengah yang kian memanas.


Pos terkait