Warga Pangkalpinang Khawatir Batal Umrah Akibat Ketegangan Timur Tengah

Kilang Minyak   Ilustrasi Freepik
Kilang Minyak Ilustrasi Freepik

Rasa Khawatir dan Harapan Jemaah Umrah di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Resti (28) duduk di sudut rumahnya di Kampung Asam, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Jari-jarinya terus menyentuh layar ponselnya. Setiap notifikasi yang muncul membuat jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. Hari ini, 25 Maret 2026, seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidupnya: keberangkatan umrah bersama suaminya. Namun, ketegangan di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran membuat rasa khawatir itu tak terelakkan.

Bagi Resti dan suaminya, perjalanan ibadah umrah yang dijadwalkan bertepatan dengan Idulfitri 1447 Hijriah bukan sekadar perjalanan biasa, namun juga impian yang mereka susun pelan-pelan selama setahun terakhir. “Yang paling saya takutkan kalau sampai dibatalkan. Sedih sekali rasanya karena ini momen yang sudah kami tunggu-tunggu,” ujarnya lirih.

Meski begitu, Resti mengaku tetap ingin menjalankan ibadah umrah dalam kondisi aman dan nyaman. Ia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada pemerintah Indonesia demi keselamatan jemaah, baik yang sudah berada di tanah suci maupun yang masih menunggu jadwal keberangkatan umrah. “Kami ikut arahan pemerintah saja. Yang penting aman,” katanya.

Resti merupakan satu dari sekian banyak calon anggota jemaah umrah yang menggantungkan harapan pada stabilitas kawasan dan kebijakan pemerintah. Di tengah derasnya informasi yang beredar, ia terus memantau kabar terbaru, baik dari media massa maupun dari pihak travel tempat ia dan suaminya mendaftar umrah. Menurutnya, travel tersebut telah mengeluarkan rilis resmi terkait kondisi penerbangan internasional. Pihak travel menyampaikan bahwa mereka aktif memantau perkembangan operasional penerbangan umrah melalui berbagai maskapai.

“Hingga saat ini belum ada perubahan jadwal keberangkatan maupun kepulangan. Belum ada informasi pembatalan,” ujar Resti. Kabar itu sedikit menenangkannya meski belum sepenuhnya menghapus kegelisahannya. Sebab, situasi geopolitik bisa berubah sewaktu-waktu. “Kami tetap berharap bisa berangkat sesuai jadwal. Semoga tidak ada perubahan. Sampai sekarang belum ada informasi pembatalan dari pihak travel,” tutur Resti.

Imbauan Tunda Umrah dari Pemerintah

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia mengimbau jemaah untuk menunda keberangkatan umrah menyusul dinamika situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Imbauan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak di Jakarta pada Minggu (1/3/2026). Langkah tersebut diambil sebagai bentuk kehati-hatian untuk menjamin keselamatan dan pelindungan jemaah.

Pemerintah juga memastikan bahwa persiapan ibadah haji 1447 H/2026 M tetap berjalan sesuai rencana. Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah dinilai makin dinamis dan tidak menentu dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam mengeluarkan imbauan resmi terkait penundaan keberangkatan umrah.

Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat preventif demi melindungi warga negara Indonesia. “Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya makin tinggi, kami mengimbau jemaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya,” ujarnya.

Imbauan tersebut ditujukan bagi jemaah yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat hingga situasi kembali kondusif. Pemerintah juga meminta jemaah umrah yang saat ini berada di Arab Saudi serta keluarga di Tanah Air agar tetap tenang dan tidak panik.

Penundaan Keberangkatan Umrah di Kabupaten Bangka

Di Kabupaten Bangka, pada Februari 2026 sedikitnya terdapat 66 orang yang terdaftar untuk menjalani ibadah umrah. Adapun pada Maret 2026, terdata ada 2 orang yang mendaftar umrah. Jumlah itu mengacu pada SISKOHAT (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu). Plt Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Bangka Giapul Prabungga mengatakan, “Kalau kami datanya hanya yang ada berdasarkan di SISKOHAT. Kalau dari data itu, di bulan Februari ini ada 66 orang yang terdaftar umrah. Cuma kita enggak tahu mana yang udah berangkat dan pulang, mana yang belum.”

Giapul memperkirakan ada puluhan calon anggota jemaah umrah asal Kabupaten Bangka yang ditunda keberangkatan maupun kepulangannya akibat konflik di Timur Tengah. Sebab, seperti tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan ibadah umrah di bulan Ramadan menjadi salah satu yang diminati jemaah. “Perkiraan saya mungkin ada puluhan yang mau umrah ini. Apalagi kita tahu umrah di bulan puasa ini kan pahalanya seperti berhaji,” ujarnya.

Pendataan dan Koordinasi dengan Travel Umrah

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Bangka Selatan Agus Sadimin mengatakan, pihaknya belum memperoleh data pasti, khususnya mengenai ada tidaknya warga Bangka Selatan yang sedang berada di Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah umrah. “Saat ini kami masih melakukan pendataan ada tidaknya masyarakat Kabupaten Bangka Selatan yang sedang melaksanakan ibadah umrah,” kata Agus.

Di Bangka Selatan, terdapat dua travel umrah yang masih aktif, masing-masing berada di Kelurahan Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, dan Desa Bencah, Kecamatan Airgegas. Namun, aktivitas pemberangkatan jamaah saat ini lebih banyak dilakukan oleh travel umrah yang berada di Tanjung Ketapang.

Agus mengakui perang antara Iran melawan Amerika Serikat-Israel yang memicu ketegangan di Timur Tengah berdampak pada sejumlah penerbangan internasional, termasuk jadwal kepulangan sebagian jemaah umrah dari Indonesia. Meski Arab Saudi tidak menjadi wilayah konflik langsung, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi jalur penerbangan dan kebijakan keamanan.


Pos terkait