Warga Kelurahan Sridadi Mengeluhkan Jalan Nasional yang Rusak dan Berdebu
Warga Kelurahan Sridadi, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari mengeluhkan kondisi jalan nasional di wilayah mereka yang rusak dan berdebu. Masalah ini terjadi di kawasan Simpang Bawah, Kelurahan Sridadi, dengan kerusakan yang menyebar sepanjang kurang lebih satu kilometer. Kerusakan tersebut dinilai mengganggu aktivitas sehari-hari serta kesehatan masyarakat setempat.
Berdasarkan pantauan di lokasi, jalan tampak bergelombang dan berlubang. Bahkan, sejumlah lubang diberi penanda kayu oleh warga agar tidak membahayakan pengendara. Selain itu, debu beterbangan terutama saat kendaraan roda dua, roda empat, hingga kendaraan besar melintas di ruas tersebut.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Sridadi, Nahrowi (51), mengatakan kondisi jalan semakin parah saat cuaca panas. Ia menyebut debu yang beterbangan sangat mengganggu warga sekitar. “Kalau siang panas, debunya sangat banyak dan terasa. Beberapa warga sampai berinisiatif menyiram air sendiri ketika debu sudah mulai menyengat,” katanya.
Nahrowi menjelaskan bahwa kondisi ini dirasakan warga setiap hari dan dinilai sangat meresahkan karena berdampak pada kesehatan masyarakat. “Setiap hari kami mengalami keadaan ini dan tentu meresahkan. Kesehatan masyarakat terganggu,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya bersama warga sudah melaporkan kondisi tersebut, namun hingga kini belum ada tanggapan. Ia menyebut masyarakat tetap membayar pajak, sementara kondisi jalan tidak kunjung diperbaiki. “Kami sudah lapor, tapi belum ada tanggapan. Warga membayar pajak, hasil bumi dieksploitasi, tapi uang untuk memperbaiki jalan ini ke mana?” tuturnya.
Nahrowi menyinggung status ruas tersebut sebagai jalan nasional. Menurutnya, perbaikan sebelumnya berupa penimbunan pada sebagian titik tidak sesuai ketentuan sehingga dikhawatirkan kembali rusak dalam waktu singkat. “Beberapa hari lalu memang ada yang ditimbun, tapi perbaikannya tidak sesuai. Beberapa hari saja akan kembali rusak,” jelasnya.
Selain kerusakan jalan, ia menyoroti keberadaan kendaraan angkutan batu bara yang melintas. Menurutnya, kendaraan masyarakat telah mengikuti aturan, namun masih ditemukan truk besar jenis tronton yang melintas pada jam nonoperasional dengan muatan mencapai 40 hingga 50 ton. “Banyak tronton tiap malam lewat di jam nonoperasional dengan muatan 40 sampai 50 ton. Bagaimana aturan ini dibuat?” katanya.
Ia menyebut kemacetan hampir terjadi setiap malam di ruas tersebut. Bahkan, warga kerap membantu pihak kepolisian ketika kemacetan terjadi akibat kondisi jalan yang rusak. “Kami harus lapor ke mana lagi? Ke DPR sudah, hasilnya nol. Ke BPJN juga sudah, tidak ada tanggapan,” ucapnya.
Nahrowi berharap pemerintah segera melakukan perbaikan menyeluruh sepanjang satu kilometer, mulai dari masuk Tenam hingga Sridadi, serta menertibkan kendaraan yang melanggar aturan.
Penyebab dan Dampak Kerusakan Jalan
- Cuaca panas memperparah kondisi jalan, membuat debu semakin tebal dan mengganggu kesehatan warga.
- Kendaraan berat, terutama truk batu bara, sering kali melewati jalan dalam jam nonoperasional dengan beban yang berlebihan.
- Penimbunan sementara yang tidak sesuai ketentuan menyebabkan kerusakan kembali terjadi dalam waktu singkat.
- Kemacetan sering terjadi, terutama di malam hari, yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Perlu Tindakan Segera
- Pemerintah diminta segera melakukan perbaikan menyeluruh untuk mengatasi kerusakan jalan.
- Penegakan aturan terhadap kendaraan berat yang melanggar jam operasional.
- Partisipasi masyarakat dalam membantu pihak berwenang untuk mengatasi kemacetan akibat jalan rusak.





