
Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menunjukkan perhatian khusus terhadap beberapa titik penyempitan jalur atau bottleneck di jalur Tol Trans Jawa dan Pantura menjelang masa mudik Lebaran 2026. Kebijakan ini dilakukan guna memastikan kelancaran arus lalu lintas selama periode liburan.
Selain fokus pada infrastruktur jalan, Kapolri juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap gangguan di jalur arteri seperti pasar tumpah hingga potensi pohon tumbang akibat cuaca ekstrem. Hal ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Lintas Sektoral Operasi Ketupat 2026 yang berlangsung di Auditorium PTIK, Jakarta Selatan, Senin (3/2). Hasil survei jalur menunjukkan bahwa masih ada beberapa titik yang menghambat kelancaran arus lalu lintas.
“Untuk jalur Tol Trans Jawa-Pantura, masih terdapat bottleneck di beberapa titik. Ini perlu diperhatikan. Pengoperasian tol yang fungsional juga perlu dioptimalkan,” ujar Sigit saat menyampaikan paparannya.
Tidak hanya di jalan tol, Kapolri meminta jajarannya dan stakeholder terkait untuk memetakan kerawanan di jalur arteri. Tujuannya adalah untuk mengawasi gangguan-gangguan yang dapat menyebabkan bottleneck. Ia juga menyebutkan adanya pasar tumpah sebagai salah satu faktor yang sering menyebabkan kemacetan.
Berikut adalah titik-titik bottleneck yang sering terjadi di Tol Trans Jawa:
- KM 47-Tol Jakarta-Cikampek. Penyempitan lajur dan pertemuan jalur yang sering menyebabkan antrean panjang.
- KM 70-Area sebelum pemberlakuan One Way/penurunan lajur transisi dari empat lajur ke tiga lajur, rawan antrean.
- KM 101-Penyempitan dari tiga menjadi dua lajur. Titik rawan kepadatan karena pengurangan kapasitas jalan.
- KM 188-Titik krusial penyeimbang rekayasa lalu lintas. Sering terjadi kepadatan apabila volume kendaraan tinggi.
- Gerbang Tol Kalikangkung (Semarang). Sering menjadi titik antre kendaraan, terutama menjelang Semarang dan menuju Jateng–Jatim.
- Rest Area dan akses keluar-masuk. Area keluar masuk rest area (KM 379, KM 429) juga sering menjadi penyebab bottleneck karena kendaraan keluar atau masuk bersamaan.
Sementara itu, titik-titik bottleneck yang kerap terjadi di Jalur Pantura antara lain:
- Pasar-pasar besar di jalur Pantura, seperti Pasar Brebes, Pasar Tegal, Kota Pekalongan, dapat memperlambat arus kendaraan.
- Daerah lintasan kereta di Pantura sering menjadi titik delay ketika kereta melintas.
- Segmen kota dan pasar tumpah. Jalur utama Pantura pada jam sibuk sering tersendat karena aktivitas penyeberangan pejalan kaki atau pasar yang masuk ke jalan.
- Wilayah Brebes (area Pasar Bulakamba). Tercatat sebagai salah satu titik yang rawan bottleneck dan kepadatan kendaraan.
- Kondisi permukaan jalan (seperti bergelombang/lubang). Bila belum diperbaiki, maka ini akan menjadi penyebab perlambatan di jalur Pantura.
Faktor cuaca juga diprediksi masih ekstrem hingga Maret 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi keamanan pemudik. “Kemudian potensi terjadinya kerusakan akibat hujan yang kemudian membuat pohon tumbang dan sebagainya,” tambahnya.
Sigit juga menekankan pentingnya antisipasi bencana alam di titik-titik rawan, terutama terkait potensi banjir rob yang dapat memutus akses jalan. “Bottleneck masih akan terjadi dan potensi rawan bencana yang tentunya juga harus dipertimbangkan untuk mempersiapkan jalur-jalur yang kemudian harus diantisipasi manakala terjadi rawan banjir rob,” tegas Kapolri.
Operasi Ketupat 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung mulai 13 Maret hingga 25 Maret 2026 dengan melibatkan 161 ribu personel gabungan untuk memastikan kelancaran arus mudik dan balik.





