Waspadalah! Bahaya mengintai di balik tren kartun AI

Aa1wwyvc
Aa1wwyvc

islamipedia.id, JAKARTA — Tren pembuatan kartun dan ilustrasi berbasis kecerdasan buatan (Kecerdasan Buatan) menyimpan risiko tersembunyi. Perusahaan keamanan siber, Kaspersky, memperingatkan bahwa praktik ini dapat mengungkap informasi pribadi dan memungkinkan pembuatan pesan penipuan skala besar yang dipersonalisasi.

Dalam membuat karikatur yang sedang tren di media sosial beberapa waktu terakhir, pengguna membagikan foto pribadi lalu meminta sistem AI membuatkan visual animasi yang menggambarkan kehidupan, profesi, hingga aktivitas sehari-hari. Visual tersebut dibuat berdasarkan “segala sesuatu yang diketahui AI” tentang diri mereka.

Namun demikian, Direktur Eksekutif Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, mengatakan bahwa di balik popularitas tersebut, praktik ini secara tidak langsung mengekspos informasi pribadi. Akibatnya, memungkinkan pembuatan pesan penipuan skala besar yang dipersonalisasi, yang merupakan ancaman yang sangat nyata saat ini.

“Kecenderungan viral membuat kartun kehidupan kita mungkin terlihat sebagai hiburan yang tidak berbahaya, tetapi sebenarnya merupakan informasi sukarela bagi pelaku kejahatan siber,” katanya, dikutip.Bisnis, Selasa (24/2/2026).

Ia menilai permintaan untuk membuat karikatur berbasis AI bukan sekadar penggunaan filter visual biasa. Agar hasil ilustrasi lebih akurat, pengguna cenderung memberikan akses luas terhadap informasi pribadi melalui instruksi (prompt) seperti “buatkan karikatur tentang saya dan pekerjaan saya berdasarkan semua yang Anda ketahui tentang saya”.

Selain foto referensi, pengguna sering menyertakan detail tambahan seperti nama perusahaan, logo, jabatan, lokasi kerja, rutinitas harian, hobi, hingga informasi keluarga. Setiap potongan data tersebut, jika dikombinasikan, membentuk profil digital yang sangat rinci.

Menurut Adrian, kombinasi gambar, teks, serta konteks kehidupan pribadi dan profesional berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk menyusun serangan rekayasa sosial yang lebih presisi.

Informasi mengenai tempat kerja, posisi jabatan, atau anggota keluarga dapat membuat pesan penipuan terlihat lebih meyakinkan dan meningkatkan kemungkinan korban memberikan data sensitif atau bahkan mentransfer dana.

“Setiap kali pengguna di Asia Pasifik memberikan detail tentang diri mereka kepada AI hanya untuk melihat ilustrasi yang cerdas, mereka menyerahkan cetak biru untuk serangan rekayasa sosial yang sempurna,” jelas Adrian.

Risiko tersebut dianggap semakin relevan di kawasan Asia Pasifik. Tingkat adopsi AI di wilayah ini tergolong tinggi, dengan 78% profesional menggunakan AI setiap pekan, melebihi rata-rata global sebesar 72%. Namun, ketidakmerataan literasi teknis dasar membuat sebagian pengguna rentan terhadap phishing dan manipulasi berbasis rekayasa sosial.

Di sisi lain, interaksi dengan platform AI tidak berhenti pada hasil gambar akhir. Bergantung pada kebijakan privasi masing-masing layanan, foto asli, instruksi teks, riwayat penggunaan, hingga data teknis seperti alamat IP, jenis perangkat, dan pola interaksi dapat tersimpan dalam sistem.

Beberapa data tersebut mungkin digunakan untuk operasional layanan, peningkatan kinerja, atau pelatihan model AI, sehingga jejak digital pengguna berpotensi disimpan lebih lama dari yang diperkirakan.

“Di wilayah dengan adopsi AI yang paling maju tetapi literasi teknis yang masih tertinggal, gambar digital ini menjadi peta yang berbahaya,” tegas Adrian.

Dengan risiko ini, para ahli Kaspersky disebut merekomendasikan untuk menerapkan kebersihan digital saat berpartisipasi dalam tren kartun AI. Untuk mengurangi risiko, hindari memasukkan data yang dapat diidentifikasi dalam kolom isian, seperti nama lengkap, jabatan, perusahaan, kota, alamat, jadwal, atau rutinitas, bahkan jika terlihat hanya untuk mempersonalisasi gambar.

“Jangan mengunggah foto yang menampilkan logo, kredensial, dokumen, plat nomor kendaraan, layar, fasad bangunan, atau elemen apa pun yang dapat membantu menemukan Anda atau mengaitkan Anda dengan suatu organisasi,” kata Adrian.

Ia juga mengimbau untuk tidak membagikan informasi atau gambar anak di bawah umur, atau mengungkapkan detail keluarga yang dapat digunakan untuk meniru kontak dekat atau merancang penipuan emosional.

Kemudian, periksa kebijakan privasi dan izin platform sebelum menggunakannya, terutama mengenai penyimpanan konten dan penggunaan data untuk pelatihan atau peningkatan layanan. Tambahkan kehati-hatian dengan perlindungan digital aktif untuk mengurangi risiko dari tautan berbahaya, unduhan berbahaya, dan teknik phishing terkait dengan tren ini, sekaligus memperkuat keamanan perangkat.

Pos terkait