Wawancara Khusus: Serangan AS-Israel ke Iran Dipicu Ambisi Geopolitik dan Ancaman Nuklir

P07zm9b7 94
P07zm9b7 94

Perang di Timur Tengah: Motif, Teknologi, dan Potensi Eskalasi

Perang yang pecah pada 28 Februari 2026 antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran langsung mengguncang dunia. Serangan udara besar-besaran dikabarkan menghantam sejumlah titik strategis di Teheran dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah petinggi militer. Iran pun membalas dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Konflik meluas, korban sipil berjatuhan, dan kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah semakin besar.

Topik ini dibahas dalam wawancara khusus oleh Pakar Hukum Internasional Universitas Muhammadiyah Riau, Fahmi Salsabila, MSi, bersama Pemred Tribun Pekanbaru, Erwin Ardian. Berikut adalah beberapa poin penting dari diskusi tersebut:

Apa Alasan Amerika dan Israel Menyerang Iran?

Menurut Fahmi, alasan penyerangan ini memang di luar banyak prediksi. Sejak Revolusi Iran 1979, hubungan Iran dengan Amerika memang konfrontatif. Iran sudah lama diembargo, tapi tetap bertahan dan bahkan berkembang secara militer. Iran kini memiliki rudal hipersonik, drone canggih, dan kemampuan pengayaan nuklir hingga 60 persen. Itu yang membuat Barat khawatir. Meski belum ada bukti Iran memiliki senjata nuklir, kemampuan menuju ke sana sudah ada.

Israel tidak ingin ada negara di Timur Tengah yang memiliki kemampuan nuklir. Sementara Amerika, dengan doktrin realisnya, ingin tetap menjadi aktor utama dunia. Jika ada negara yang dianggap menandingi, maka akan ditekan atau ditaklukkan.

Bagaimana Serangan Bisa Sangat Presisi?

Fahmi menyebutkan bahwa teknologi militer Amerika dan Israel sangat mumpuni. Mereka punya satelit canggih, sistem penginderaan jarak jauh, dan rudal presisi yang dipandu satelit. Dengan kombinasi teknologi dan strategi militer, target bisa dikunci dengan sangat akurat. Ini menunjukkan ada kelemahan dalam sistem keamanan Iran, sehingga lokasi para petinggi bisa diketahui. Ini juga menjadi alarm bagi para pemimpin tingkat tinggi di berbagai negara.

Apakah Mereka Sudah Tahu Lokasi Target?

Jika melihat hasilnya yang presisi, kemungkinan besar iya. Bukan hanya Ayatollah Khamenei, tapi juga komandan IRGC dan sejumlah pejabat tinggi lainnya menjadi sasaran. Bahkan disebut-sebut presiden juga menjadi target, meski tidak terkena. Tujuannya jelas: mengguncang dan melemahkan rezim, bahkan membuka peluang perubahan kekuasaan dengan dukungan kelompok oposisi.

Peran Intelijen dalam Perang

Intelijen sangat besar perannya dalam perang ini. Fahmi menjelaskan bahwa Mossad Israel dikenal sangat kuat. Pelacakan bisa dilakukan lewat berbagai cara, bahkan melalui perangkat pribadi seperti ponsel. Teknologi pelacakan sekarang sangat canggih. Jadi bukan hal mustahil posisi target bisa diketahui secara detail.

Apakah Khamenei Tidak Berada di Bunker Saat Serangan?

Informasi yang beredar menyebutkan beliau terkena reruntuhan bangunan akibat serangan udara. Artinya, kemungkinan tidak berada di bunker khusus saat serangan terjadi.

Bagaimana Kondisi Pasca-Khamenei?

Setelah Khamenei wafat dan sudah ditunjuk pengganti sementara, kondisi ke depan akan bergantung siapa yang akan memimpin. Jika yang terpilih adalah sosok yang masih satu garis keras dan memiliki kedekatan dengan IRGC, maka perlawanan kemungkinan akan terus berlanjut. Amerika masih terus menggempur, dan kita harus menunggu perkembangan berikutnya.

Prediksi Durasi Perang

Fahmi menyatakan bahwa sulit diprediksi selesai cepat. Iran sudah menyerang wilayah yang memiliki pangkalan militer AS. Pecahan rudal di negara-negara tetangga juga menimbulkan korban. Jika Iran merasa kehilangan figur sebesar Khamenei, balasannya bisa habis-habisan. Konflik ini berpotensi meluas, bukan hanya Iran, Israel, dan Amerika, tapi juga negara-negara Teluk dan Arab yang selama ini menjadi sekutu AS.


Pos terkait