Kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis
Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh seorang anak muda yang berani menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah. Anak muda tersebut adalah Tiyo Ardianto, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada. Ia tidak ragu-ragu mengkritik program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang ia sebut sebagai “Maling Berkedok Gizi”. Bahkan, ia secara terbuka menyebut bahwa Prabowo bodoh dengan argumen-argumen yang ia bangun.
Dalam wawancara yang dilakukan oleh Pemimpin Redaksi Tribun Jateng Ibnu Taufik Juwariyanto di Omah Dongeng Marwah di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus pada Kamis (26/2/2026), Tiyo menyampaikan pandangan-pandangannya tentang situasi politik dan ekonomi Indonesia saat ini.
Kondisi Republik yang Sakit
Republik ini lebih sakit daripada rakyatnya, rakyatnya sehat kuat kita puasa dengan riang gembira tangguh menghadapi pemerintah yang bobrok. Dalam kesempatan itu, Tiyo menilai bahwa pemerintah saat ini tidak hanya sakit, tetapi juga sudah gila. Ia menyatakan bahwa masyarakat Indonesia terlalu sabar, sampai kapan mereka akan bersabar?
Ia mengingatkan bahwa pada tahun 1997 dan 1998, banyak negara seperti Yugoslavia dan Uni Soviet pecah, tetapi Indonesia masih bertahan hingga sekarang karena ketangguhan masyarakatnya. Namun, ketangguhan ini juga menjadi peluang bagi kekuasaan untuk memainkan kesabaran rakyat.
Kritik terhadap Kebijakan Pemerintah
Tiyo menyampaikan bahwa pemerintah menggunakan cara-cara tertentu untuk membuat kesabaran rakyat ditarik dan diulur. Misalnya, ia mengambil konsep Jean Baudrillard tentang simulakra, di mana dunia dibangun oleh citra simbolik yang jauh dari realitasnya. Contohnya, Prabowo mengatakan “Hai antek-antek asing” dalam pidatonya, namun di saat yang sama, ia duduk bersama Trump dan Netanyahu, yang merupakan pemimpin fasis dan penjahat dunia.
Kritik terhadap Program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih
Program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) disebut Tiyo sebagai program yang korupsi. Ia menegaskan bahwa 99 persen dari anggaran MBG pasti korupsi. Ia menunjukkan bahwa anggaran MBG mencapai Rp 335 triliun, sementara anggaran untuk pendidikan dan kesehatan sangat minim.
Tiyo juga menyatakan bahwa program MBG bukanlah bantuan makanan gratis, tetapi lebih mirip dengan permainan uang untuk memperkuat modal politik Prabowo untuk pemilu 2029. Ia menyoroti bahwa banyak SPPG (Sekolah Pengolahan Pangan dan Gizi) yang dimiliki oleh orang-orang dekat dengan partai politik, TNI, dan Polri.
Kritik terhadap Media dan Gerakan Mahasiswa
Tiyo menyampaikan bahwa media mainstream sering kali kongkalikong dengan pemerintah, sehingga sulit untuk mendapatkan informasi yang objektif. Namun, ia percaya bahwa masyarakat kini memiliki media alternatif, yaitu media sosial, yang bisa menjadi sumber informasi yang lebih akurat.
Ia juga menyampaikan keraguan terhadap sterilitas gerakan mahasiswa. Meskipun gerakan mahasiswa tidak sepenuhnya steril, ia berharap generasi baru dapat lebih konsisten dalam menjaga nilai-nilai perjuangan. Ia menyatakan bahwa BEM UGM selalu menolak pengondisian dari pihak kekuasaan dan berdiri di jalan sunyi yang bercahaya bersama rakyat Indonesia.
Kesimpulan
Tiyo Ardianto mengingatkan bahwa rakyat Indonesia harus lebih sadar dan aktif dalam menghadapi situasi politik dan ekonomi yang semakin sulit. Ia menyatakan bahwa perubahan mendasar tidak bisa diharapkan dari satu dua orang, tetapi harus melalui kesadaran kolektif. Ia berharap generasi muda dapat menjadi motor perubahan sosial yang lebih baik.





