Program Literasi Keuangan untuk UMKM di Mimika
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK) bekerja sama dengan Bank Tabungan Negara (BTN) dan CV Amugsang Gemilang Berjaya menggelar Financial Literacy Program (FLP) bagi 20 pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kios kelontong binaan Batch II di Kabupaten Mimika. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang pengelolaan usaha, sehingga peserta dapat berwirausaha secara mandiri.
Program ini tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga fokus pada peningkatan keterampilan operasional dan ekonomi peserta. Hal ini dilakukan agar UMKM yang dibina mampu berkembang secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat setempat.
Tujuan dan Target Program
Tujuan utama dari program ini adalah membangun kesadaran dan kemampuan para pelaku UMKM dalam mengelola bisnis mereka. Dengan pendampingan intensif selama satu tahun, peserta akan belajar mengenai manajemen keuangan, pelayanan konsumen, serta strategi pemasaran yang efektif.
Selain itu, program ini juga bertujuan untuk membantu UMKM OAP (Orang Asli Papua) menjadi lebih modern dan profesional. Dengan sistem kasir dan back office berbasis aplikasi, transaksi di kios-kios tersebut bisa terpantau secara real-time oleh YPMAK, vendor, maupun BTN. Hal ini mirip dengan minimarket modern, di mana semua aktivitas keuangan tercatat dan termonitor.
Pelatihan dan Pendampingan
Dalam pelatihan kedua ini, peserta mendapatkan pembekalan tambahan mengenai pelayanan konsumen, komunikasi, dan tata cara menjual barang. Semua peserta diberi kesempatan untuk memulai bisnis dari nol, sehingga mereka bisa membangun kepercayaan diri dan keterampilan yang diperlukan.
Branch Manager BTN Timika, Didit Darmono menyampaikan bahwa program ini merupakan kerja sama antara BTN dan YPMAK untuk mendukung pengembangan UMKM OAP, khususnya Amungme dan Kamoro. Ia menegaskan bahwa bank siap berperan dalam mendorong kemandirian peserta, sesuai dengan harapan dari YPMAK.
Sistem Manajemen Keuangan
CV Amugsang Gemilang Berjaya, yang juga terlibat dalam program ini, melakukan review dan penyegaran terhadap kios-kios yang sudah berjalan. Direktur perusahaan tersebut, Teopilus Karubuy, menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan dilakukan secara terpisah antara modal belanja barang, keuntungan peserta, serta biaya operasional seperti listrik dan pulsa kasir.
Keuntungan 100 persen diberikan kepada peserta, sementara biaya operasional dibayarkan setiap bulan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa peserta tetap memiliki insentif untuk menjalankan usaha mereka secara mandiri.
Tantangan dan Harapan
Meski ada tantangan dalam menjalankan usaha, pihak-pihak terkait percaya bahwa dengan monitoring dan evaluasi bertahap, usaha ini bisa berjalan baik. Selama satu tahun pendampingan, peserta akan belajar dari pengalaman sebelumnya dan mengikuti arahan agar bisa mandiri setelah masa pendampingan berakhir.
Tren penjualan di lapak OAP sejak awal pembukaan cukup baik dan mendapat antusiasme masyarakat. Dengan adanya program ini, diharapkan peserta baru bisa belajar dari yang sudah berjalan, memahami operasional usaha, dan menjalani bisnis dengan lebih baik.





