Zakat: Pembersih Jiwa dan Jembatan Sosial

Gus Rauf Arrahbini Wakil Ketua Pcnu Kayong Utara Png 1
Gus Rauf Arrahbini Wakil Ketua Pcnu Kayong Utara Png 1

Zakat: Kewajiban Ritual dan Bentuk Kepedulian Sosial

Zakat bukan hanya sekadar kewajiban ritual, tetapi juga perintah dari Allah SWT untuk membersihkan jiwa dari sifat kikir dan cinta berlebihan terhadap harta. Zakat menjadi jembatan sosial antara yang mampu dan yang membutuhkan. Dengan zakat, kesenjangan sosial dapat dikurangi serta membantu fakir miskin dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar sehari-hari.

Salah satu cara untuk menuju pribadi muslim yang mulia adalah dengan taat dan sadar melaksanakan perintah Allah dalam menunaikan ibadah zakat. Zakat tidak hanya sekadar kewajiban ritual belaka. Namun, zakat memiliki potensi besar untuk menjadikan diri lebih peduli terhadap sesama.

Zakat sendiri disyariatkan kepada umat Muslim, termasuk umat Rasulullah Muhammad SAW, untuk membersihkan diri dan harta. “Tidak sebatas itu saja, zakat merupakan prioritas untuk mengikis sifat kikir dan materialistis terhadap harta yang telah diamanahkan oleh Allah untuk dibagikan kepada sesama,” ujar Abdullah Iskak, Ketua Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) PCNU Surabaya.

“Oleh karena itu, sahabat muslim di mana pun berada, mari saling berbagi dengan sesama, sebab di antara harta kita ada hak untuk fakir dan miskin,” tambahnya.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan dalam Surah At-Taubah ayat 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”

Zakat sebagai Kepedulian Sosial

Zakat merupakan bentuk kepedulian sosial dan jembatan sosial yang menghubungkan antara yang kaya dan yang miskin. Dengan harta kita, kesenjangan bisa dikurangi serta membantu fakir miskin dalam hal pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya seperti pekerjaan dan makanan sehari-hari.

Tidak jarang, ada orang yang hidup dalam keadaan berkelebihan, sementara tetangganya mengalami kelaparan. Hal ini sangat tidak disukai oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu, beliau pernah bersabda:

Laisa al-mu’minu alladzi yasyba’u wa jaruhu ja’i’un ila janbihi.

“Tidak beriman seseorang yang dirinya kenyang sementara tetangganya dalam kondisi kelaparan.”

Pentingnya Menunaikan Zakat

Oleh karena itu, mari tunaikan zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal, dengan penuh keikhlasan. Jadikan zakat sebagai berkat antarumat dan solusi konkret atas permasalahan ekonomi. Dengan zakat, kita berbagi kebahagiaan dan saling meringankan beban sesama. Sehingga akan tercipta masyarakat yang adil, sejahtera, dan saling menguatkan.

Bagaimana kita bisa membantu sesama dengan program Dikdaya agar umat senantiasa merasakan hasil dari zakat nantinya untuk bisa menumbuhkan perekonomian umat dengan menciptakan lapangan pekerjaan.

“Oleh karena itu, saya mengharapkan kepada seluruh warga, khususnya dan umumnya kaum muslimin dan muslimat, mari berlomba-lomba untuk sadar mengeluarkan zakat. Sebab dengan zakat yang kita keluarkan akan benar-benar tercipta rahmatan lil ‘alamin di lingkungan kita semua,” ujarnya.

Mari kita berusaha semaksimal mungkin bagaimana mengubah nasib mustahik yang serba kekurangan menjadi seorang muzakki, menjadi seorang munfiq yang bisa bersedekah. Itulah harapan kita di bulan Ramadan ini, mengubah pribadi kita yang enggan berzakat. Kita salurkan zakat kita kepada lembaga-lembaga atau badan-badan zakat yang benar-benar sah, baik secara hukum negara ataupun hukum syariat.

Agar zakat kita tepat sasaran dan sesuai dengan harapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memiliki sasaran yang tepat untuk kepedulian sosial, salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda.

Program Lazisnu

Misalnya, melalui lembaga Lazisnu yang merupakan lembaga amil zakat, infak, dan sedekah milik Nahdlatul Ulama (NU).

Pos terkait